Hati-hati! Jangan Pakai 5 Dana Ini Untuk Beli Saham

Date:

[Waktu baca: 4 menit]

Beberapa waktu terakhir, masyarakat dihebohkan dengan berbagai pengkuan sejumlah investor saham yang menggunakan uang panas seperti utang hingga uang pendidikan untuk membeli saham.

Cara tersebut bukan cara yang ideal untuk berinvestasi saham. Idealnya, investasi saham dilakukan dengan menggunakan "uang dingin" atau uang yang memang secara khusus dialokasikan untuk investasi dan tidak diperuntukkan untuk biaya hidup sehari-hari, pendidikan, pembayaran utang dan sebagainya.

Investasi saham perlu menggunakan uang dingin karena investasi saham memiliki dua kemungkinan: untung atau rugi. Tidak seperti instrumen berisiko rendah seperti deposito, investasi saham adalah investasi berisiko tinggi dimana investor dapat kehilangan sebagian besar uang yang diinvestasikan, tentu selain potensi keuntungan yang tinggi.

Berikut ini sejumlah jenis dana yang sebaiknya tidak dipakai oleh investor saham untuk membeli saham:

1. Dana Darurat

Dana darurat adalah dana yang telah disiapkan sejak lama untuk mengantisipasi peristiwa yang tidak diinginkan seperti jatuh sakit, bencana alam, krisis ekonomi, kecelakaan, kehilangan pekerjaan, dan sebagainya.

Dana darurat dapat berfungsi sebagai penopang keuangan untuk memenuhi kebutuhan sendiri tanpa harus mengandalkan pinjaman dari pihak lain. Dana darurat ibarat payung yang disiapkan untuk mengantisipasi hujan.

Karena harus bisa segera dicairkan, dana darurat sebaiknya disimpan di instrumen yang likuid seperti tabungan atau berisiko rendah seperti deposito atau reksa dana pasar uang, bukan saham.

Bayangkan saja apabila dana darurat digunakan untuk membeli saham. Salah satu kemungkinan yang sangat mungkin terjadi adalah saat pemilik dana sedang membutuhkan uang mendesak, jumlah uang yang ditempatkan di saham mengalami penurunan karena capital loss. Tentu itu bukan situasi yang diharapkan.

Baca juga: Memperpertimbangkan Reksa Dana Pasar Uang Untuk Simpan Dana Darurat

2. Dana Pendidikan

Dana pendidikan adalah dana yang disiapkan untuk keperluan pendidikan (sekolah), baik untuk keluarga (anak, istri, adik, kakak dan sebagainya) atau untuk diri sendiri di masa depan.

Mengingat ketersediaan dana pendidikan ini harus selalu terjaga dan dapat dicairkan pada saat yang telah diprediksi, dana pendidikan sebaiknya disimpan di instrumen berisiko rendah seperti tabungan berjangka, deposito atau reksa dana pasar uang.

3. Dana Utang

Apakah investasi saham boleh menggunakan uang pinjaman atau utang? Pertanyaan ini terkadang diajukan oleh calon investor, terutama investor pemula yang memiliki modal terbatas atau belum memiliki modal.

Jawabannya: tidak dianjurkan. Mengapa? Alasannya, hasil investasi saham itu tidak pasti, sedangkan bunga cicilan/pokok utang itu pasti. Bagaimana mungkin melunasi sesuatu yang pasti (bunga/pokok utang) dengan sesuatu yang tidak pasti (return saham)?

Bagi investor yang sudah sangat berpengalaman sekalipun, tidak mudah memprediksi secara pasti seberapa besar keuntungan yang diperoleh dari investasi saham. Sementara itu, bunga utang adalah suatu kepastian dengan persentase tertentu. 

Utang yang dimaksud dapat berupa uang dari kredit tanpa agunan (KTA), pinjaman online, tarik tunai dari kartu kredit, utang dari renternir dan sebagainya.

Baca juga: Investasi Saham Pakai Utang, Tepatkah? 

4. Dana Gadai

Pada umumnya, seseorang menggadaikan asetnya untuk mendapatkan uang dalam keadaan mendesak. Dengan kata lain, orang tersebut menjaminkan asetnya untuk mendapatkan pinjaman dari perusahaan gadai.

Nah, uang yang diperoleh dari gadai ini sebaiknya digunakan untuk keperluan mendesak sesuai tujuan awalnya, bukan untuk berinvestasi saham. Investasi saham bukanlah keperluan mendesak. Jika menggunakan uang gadai untuk investasi saham, apabila  saham itu mengalami capital loss atau kerugian, uang gadai tersebut bisa berkurang atau bahkan lenyap. 

Tentu saja, situasi itu akan menambah beban penggadai tersebut karena penggadai juga perlu menebus aset yang dijaminkan beserta kewajiban bunganya yang telah diatur dalam jangka waktu tertentu.

5. Dana Kebutuhan Hidup

Pada umumnya, dana kebutuhan hidup (makanan, transportasi, air, listrik dan sebagainya) adalah biaya tetap yang pasti akan dikeluarkan setiap hari, setiap pekan atau setiap bulan. Dalam situasi apapun, manusia membutuhkan dana tersebut untuk membiayai hidupnya.

Oleh karena itu, dana yang digunakan untuk berinvestasi saham sebaiknya bukan merupakan dana untuk membiayai kebutuhan hidup tersebut. Biaya yang dipakai untuk investasi saham sebaiknya dana (modal) yang memang dikhususkan untuk berinvestasi.

Mengapa? Seperti telah disinggung di atas, keuntungan (dan kerugian) dari transaksi saham tidaklah pasti, sedangkan kebutuhan hidup adalah sesuatu yang pasti. Dalam trading sekalipun, tidak semua trader atau scalper dapat menghasilkan keuntungan secara konsisten dan pasti setiap harinya.