Menyimak Perjalanan Perdagangan China, Mendominasi Ekonomi Dunia

Date:

Tiga dekade belakangan, ekonomi China benar-benar menunjukkan keperkasaannya. Medio 1990-an dan 2000-an, beberapa kali pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) China bisa tembus 15%. 

Tak cuma itu, kinerja perdagangan China dengan dunia juga menunjukkan peningkatan tajam dalam 2 dekade belakangan. Puncaknya pada medio 2000-an saat kinerja perdagangan berkontribusi hingga 64% dari PDB nasional China. Hal ini sejalan dengan tingkat realisasi investasi asing di China yang menanjak gila-gilaan.

Pertumbuhan ekonomi China yang melejit ini akhirnya memunculkan banyak miliarder baru. Beberapa nama bahkan bertengger di deret orang terkaya dunia. 

Melihat orang kaya yang semakin kaya, Presiden Xi Jinping akhirnya menyusun sebuah kebijakan baru bernama 'Kemakmuran Bersama'. Sebenarnya istilah ini bukan baru. Pada 1950-an, Mao Zedong sudah menggaungkan kampanye soal pemerataan ekonomi. 

Kebijakan baru ini pun menyasar perusahaan-perusahaan raksasa China. Pemerintah ingin mempersempit jurang ketimpangan kesejahteraan di China. 

Lantas seperti apa perjalanan perdagangan China atau China Trade ini? Big Alpha merangkumnya untuk kamu. 

1. Diawali reformasi perekonomian China pada 1978

Dominasi ekonomi China terhadap dunia saat ini butuh waktu yang lama untuk dibangun. China memulai reformasi sistem ekonomi mereka pada 1978 silam. 

Pemerintah China saat itu mulai mengenalkan kebijakan sosialisme dengan karakteristik China. Reformasi ekonomi dilakukan dalam 2 tahap. Pertama, periode 1970 hingga 1980-an dengan mulai mengembangkan pertanian, membuka investasi asing, dan pemberian izin bisnis di sektor pariwisata. 

Sementara tahap kedua, mulai akhir 1980 hingga 1990-an meliputi privatisasi, pencabutan kontrol harga, dan perbaikan regulasi di banyak sektor ekonomi. Hal ini pun membuat sektor swasta berkembang pesat hingga mencapai 70% PDB China pada 2005. 

Perjalanan panjang reformasi ekonomi China ini memang bisa dibilang berhasil. Ekonomi memang maju pesat dan dibarengi dengan serapan tenaga kerja yang juga luas. Namun, PR baru muncul. Ketimpangan alias kesenjangan pendapatan semakin lebar. Hal ini menggambarkan bahwa kelompok terkaya di China semakin kaya meninggalkan yang miskin. 

2. China menggeser Jepang

Pada 2010, China resmi menggeser posisi Jepang sebagai negara dengan perekonomian terbesar kedua dunia. Posisi ini masih bertahan sampai saat ini. Banyak ekonom juga meyakini China segera menyalip Amerika Serikat (AS) pada 2030 mendatang sebagai negara dengan ekonomi terkuat dunia. 

3. Modal yang berlimpah

Keberhasilan China dalam mereformasi ekonominya tidak semata-mata berbekal modal finansial saja. China terutama memiliki modal berupa tenaga kerja yang melimpah. Jumlah penduduk yang sangat banyak ini dimanfaatkan pemerintah untuk memasok industri di sana. Upah tenaga kerja di China pun dikenal murah sehingga menguntungkan bagi industri. 

China juga berhasil menarik banyak investor asing untuk mendirikan jaringan pabriknya di sana. Berbagai produk, seperti ponsel hingga mainan diproduksi di China.

4. Perang dagang dengan Amerika Serikat

Tren penguatan ekonomi China tampaknya membuat Amerika Serikat yang selama ini berada di singgasana negara dengan ekonomi terbesar ikutan keder. Hubungan Amerika Serikat dan China semakin memanas di era kepemimpinan Donald Trump. Keduanya terlibat perang dagang yang puncaknya pada 2019 lalu berimbas pada perekonomian global. 

Amerika Serikat (AS) tidak terima ketika neraca perdagangan mereka selalu defisit dengan China. Akhirnya, langkah proteksionisme pun diambil untuk memulihkan kinerja perdagangan mereka dengan China. 

Trump memutuskan menaikkan bea masuk impor panel surya dan mesin cuci masing-masing 30% dan 20%. Selanjutnya, AS mengenakan tarif bea masuk baja hingga 15% dan 10% untuk aluminium. 

China membalasnya dengan menaikkan tarif produk daging babi dan skrap aluminium mencapai 25%. Beijing memberlakukan tarif 15% untuk 120 komoditas AS.

Aksi saling balas pun terjadi. Amerika Serikat bahkan melarang perusahaan telekomunikasi China membeli komponen AS selama 7 tahun. Hal ini berdampak pada produk Huawei, raja komponen elektronik China tidak bisa menyematkan layanan Google Mobile Service (GMS) di seluruh produk gadget mereka. 

Sejak itu, dinamika perang dagang berkembang. Sejumlah pihak pun ikut terlibat sebagai penengah. Namun tetap saja tensi perang dagang antara AS dan China terus berlanjut hingga saat ini. 

Para pakar pun meyakini Amerika Serikat akan terus mengganggu China. Alasannya masih seperti di awal, AS khawatir dengan perkembangan China yang terus menggerus dominasi AS dalam politik dan pertahanan dunia.