Emiten Properti di Tengah Pagebluk

Date:

[Waktu baca: 4 menit]

Pandemi virus corona merontokkan penjualan rumah. Bank Indonesia mencatat:

  • Penjualan properti residensial primer sampai triwulan 3/2020 turun 30,03% (year-on-year)
  • Penjualan rumah tipe besar turun 60,03% (yoy)
  • Penjualan rumah tipe kecil turun 24,99% (yoy)
  • Pembatalan penjualan properti 13% dari seluruh penjualan dimana rumah kecil sebanyak 72%

Penyebab, berdasarkan survei BI, dari paling tinggi:

  • Covid-19 dan PSBB 
  • Suku bunga KPR (rata-rata suku bunga 8,63% per September 2020)
  • Proporsi uang muka KPR
  • Perizinan dan birokrasi
  • Kenaikan harga bangunan

Data itu menjelaskan kenapa penjualan dan juga laba emiten properti rontok hingga kuartal 3/2020. Berikut ini data laba sebagian emiten properti (dalam Rp miliar):

Perusahaan Kode Q3/2020 Q3/2019 YoY
Pakuwon Jati PWON 601 2150 -72%
Bumi Serpong Damai BSDE 469 2310 -80%
Summarecon Agung SMRA -12.5 315 -104%
Lippo Karawaci LPKR -2340 1720 -236%
Puradelta Lestari DMAS 302 759 -60%

Laba sebagian emiten properti besar turun. Kondisi itu menegaskan survei bank sentral yang menyatakan penurunan penjualan properti residensial terjadi pada seluruh tipe rumah.

Karena pagebluk, pasar properti mengalami anomali, termasuk dari sisi penawaran. 

Rumah.com Indonesia Property Market Index – Suplai (RIPMI-S) menunjukkan indeks suplai properti turun di kuartal 1/3030 atau tidak seperti tren sebelumnya yang cenderung meningkat. RIPMI-S turun 5% pada kuartal I/2020. Penurunan indeks suplai ini menunjukkan indikasi wait and see dari para pengembang, menurut riset Rumah.com, karena pandemi corona. 

Kemarin, 19 November 2020, Bank Indonesia menurunkan BI 7-days Reverse Repo Rate. Penurunan suku bunga acuan itu biasanya diikuti penurunan suku bunga kredit, termasuk KPR.

Menarik untuk mencermati dampak penurunan suku bunga acuan ke-5 tersebut sepanjang 2020 terhadap penjualan properti di kuartal 4/2020 di tengah daya beli masyarakat yang belum pulih karena pandemi.