FOMO Sapiens

Putra R.S.

[Waktu baca: 4 menit]

Belakangan ini, banyak yang mengirimkan direct message ke akun Instagram Big Alpha, menanyakan tentang cryptocurrency atau kripto.

Tumpukan pertanyaan tadi mungkin akibat “testimoni” pelipatgandaan uang hasil investasi kripto yang lalu lalang di media sosial. Screenshot cuan sekian belas persen muncul di IG Story. Ajakan investasi Bitcoin berserakan di lini masa Twitter. Tiktok pun tak luput dari fenomena ini. Investasi cryptocurrency? Mari kita coba!

Keriaan ini sangat dimaklumi. Karena siapa sih yang tidak mau uangnya berlipat ganda? Alasan yang sama kan yang membuat Dimas Kanjeng sempat naik daun?

Pro kontra akan kripto semakin membuat instrumen ini kian ramai diperbincangkan. Sebagian percaya kripto tak berbeda dari ikan louhan atau batu akik. Hanya sebuah bubble yang ketika harganya sudah terlalu tinggi, akan meletus dan langsung tiarap. Sebagian lagi melihat hasil yang dibawa. Market capitalization yang sudah lumayan besar sepertinya cukup untuk jadi jaring pengaman. Jadi, nikmati saja hasilnya selagi bisa. Pecah tidak itu urusan nanti.

Cepat meroketnya harga kripto membuat peminatnya juga berakumulasi dengan cepat. Orang-orang menjadi FOMO, ingin juga mencicipi nikmatnya pelipatgandaan uang dalam waktu singkat. FOMO –atau Fear of Missing Out– adalah perasaan gelisah yang muncul akibat merasa tertinggal, entah itu tertinggal berita, tren, atau kereta. Bagi yang belum familiar, FOMO itu adalah perasaan yang muncul ketika kamu melihat IG Story temanmu lagi pada nongkrong bareng, tapi kamu nggak diajak. Nah, itu FOMO.

Beberapa bulan terakhir ini, IHSG bergerak sideways. Mungkin ini jadi salah satu pemicu yang membuat para investor dengan target return double digit menjadi gerah, salah tingkah, dan mulai melirik kanan kiri mencari pengganti. Pilihan jatuh pada kripto. Mereka pun berbondong-bondong pindah gerbong.

Baca juga: Harapan "Semu" Ramadan Bagi Emiten Restoran (KFC, Pizza Hut, Duck King)

Mengutip laporan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) yang dilansir dari CNBC Indonesia, jumlah investor kripto per akhir Februari 2021 mencapai 4,2 juta orang. Angka ini sudah dua kali lipat dari SID (Single Investor Identification) saham yang baru menyentuh angka 2 juta pada periode yang sama. Mengingat kripto adalah jenis investasi yang baru, bayangkan betapa cepat pertumbuhan peminatnya.

Perilaku herding atau ikut-ikutan bukanlah hal yang baru di pasar modal. Secara naluriah, manusia atau homo sapiens memang terbiasa untuk ikut-ikutan. Kita sebagai manusia percaya bahwa kemungkinan untuk bertahan (survive) lebih tinggi jika tergabung dalam suatu kelompok. Menjadi satu dari puluhan lebih terlihat aman daripada muncul sendirian. Benar, sama-sama. Salah pun, sama-sama. Keseragaman jadi kunci untuk bertahan hidup.

Mungkin ini juga yang terpatri dalam benak seseorang ketika berurusan dengan keputusan yang melibatkan uang. Untung, sama-sama. Rugi pun, sama-sama. Tidak lebih banyak, tidak lebih sedikit. Ketika sedang membandingkan diri pun, jadinya seragam. Tidur lebih nyenyak kala tau kita tidak lebih buruk dari orang lain.

Namun sebetulnya, mengambil keputusan keuangan berdasarkan FOMO itu sebuah hal yang berisiko. Sejatinya, kita harus berhati-hati dalam mengambil langkah yang melibatkan uang.

Uang yang dicari dengan susah payah itu seharusnya menjadi otoritas kita. Bukan malah jadi bahan rekomendasi atau mendang-mending dari orang lain.

Setiap orang punya tujuannya masing-masing. Tujuan yang kompleks karena ada banyak faktor yang terlibat. Titik mulai yang berbeda, tingkat risiko yang berbeda, earning power yang berbeda, dan lain sebagainya, yang juga berbeda. Begitu kompleks, sampai ikut-ikut orang lain atas nama FOMO ini rasanya bukanlah langkah yang tepat.

Khawatir ketinggalan kereta? Keretanya siapa? Tujuannya ke mana? Jika kereta ini malah membawamu menjauh dari tujuan akhir, mengapa harus khawatir?

Gelisah tertinggal berita? Berita tentang apa? Pentingkah untuk kita? Kalau beritanya tidak terkait dengan cita-cita, kenapa harus gelisah?

Dalam mengambil keputusan, selalu landasi dengan satu hal. Kenali dirimu terlebih dahulu. Apa tujuan keuanganmu, seberapa lentur dirimu terhadap risiko, atau berapa yang bisa kamu sisihkan tiap bulannya. Lalu bekali diri dengan informasi yang mendukung tujuanmu. Baca kanan kiri, perbanyak referensi, cari perspektif yang baru, juga mainlah agak jauh. Namun tak semua harus diserap. Pilah pilih saja sesuai arah yang diharap.

Jadi, tak usah buru-buru kalau masih ragu. Tak apa tertinggal jika infonya baru sepenggal.

Santai saja.

Tags:

Personal Finance