Indonesia Resesi, Reksa Dana Masih Cuan?

Date:

 [Waktu baca: 10 menit]

Reksa dana masih menjadi salah satu pilihan investasi yang diminati banyak orang. Bahkan di tengah kondisi pandemi, permintaan terhadap reksadana tetap ada, meskipun sempat sedikit turun. Namun, memasuki semester kedua, permintaannya kembali meningkat.

Lantas, bagaimana prospek instrumen investasi ini di tengah kondisi pandemi dan ancaman resesi? Jenis reksa dana mana saja yang masih menghasilkan keuntungan?

Sebelum sampai ke sana, kita perlu lebih dahulu memahami apa itu reksa dana. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), reksa dana adalah wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan.

Penghimpunan dana ini dilakukan oleh perusahaan manajemen aset, sedangkan pengelolaan dananya dilakukan oleh manajer investasi dari perusahaan tersebut.

Instrumen reksa dana masih diincar oleh pelaku pasar, sebab jasa manajemen investasi yang profesional dalam pengelolaan investasi tetap sangat dibutuhkan, apalagi di tengah kondisi pandemi saat ini. Sebab, pada kenyataannya, investasi di pasar modal bukanlah hal yang mudah.

Seorang investor perlu memahami seluk beluk instrumen investasi yang dipilihnya, memahami faktor-faktor terkait kondisi ekonomi yang dapat mempengaruhi kinerja instrumen investasi tersebut, serta memahami korelasi antara faktor yang satu dengan yang lain.

Selain itu, instrumen investasi di pasar modal sangat berhubungan dengan kinerja dari penerbit instrumen itu. Dalam hal ini, instrumen saham atau obligasi korporasi ditentukan oleh kinerja emiten/perusahaannya.

Seorang investor perlu tahu isi terdalam dari perusahaan yang sahamnya atau obligasinya hendak dia beli, prospek industri yang digeluti perusahaan tersebut, kinerja keuangan historis dan rencana masa depan perusahaan itu, integritas dari tim manajemen puncaknya, dan banyak hal lain.

Untuk melakukan analisis tersebut tentu butuh waktu dan keterampilan khusus. Sayangnya, tidak semua orang memiliki waktu dan keterampilan tersebut, atau bahkan kapasitas yang memadai untuk memahami dinamika instrumen investasi.

Reksa dana hadir untuk mengatasi tantangan tersebut. Meskipun instrumen ini juga tetap banyak diminati oleh investor berpengalaman, tetapi reksa dana adalah instrumen yang paling cocok untuk investor pemula yang ingin memulai berinvestasi dengan jumlah kecil dan belum sepenuhnya memahami seluk beluk dunia investasi di pasar modal.

Cara kerja reksa dana adalah perusahaan manajemen aset mengumpulkan dana dari banyak investor, menyatukannya, lalu mengelolanya melalui penempatan investasi pada beragam instrumen investasi.

Secara umum, instrumen reksa dana terbagi atas empat jenis. Jenis reksa dana ini dibedakan berdasarkan jenis instrumen dasarnya (underlying assets), atau instrumen tempat manajer investasi mengelola dana yang dikumpulkannya, yakni saham, obligasi, atau instrumen pasar uang.

Saham adalah instrumen investasi berbasis ekuitas atau modal, sedangkan obligasi adalah instrumen investasi berbasis utang. Sementara itu, instrumen pasar uang juga adalah instrumen investasi berbasis utang, tetapi jangka waktunya lebih singkat, yakni di bawah 1 tahun.

Instrumen pasar uang antara lain Sertifikat Bank Indonesia, deposito berjangka, dan obligasi yang jatuh tempo di bawah 1 tahun.
Oleh karena reksa dana merupakan instrumen investasi yang berasal dari instrumen investasi lain, reksa dana tergolong sebagai instrumen turunan atau derivatif.

Berikut ini jenis-jenis reksa dana:

Sepanjang tahun ini, permintaan atas reksa dana bergerak fluktuatif. Namun, secara umum permintaan atas reksa dana tahun ini masih meningkat. Hanya saja, nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana turun tahun ini, mengikuti tren penurunan kinerja instrumen dasarnya di pasar. Turunnya NAB juga disebabkan karena lebih banyak investor reksa dana yang menjual reksa dananya ketimbang yang membeli. Berikut ini data kinerja reksa dana berdasarkan Statistik Pasar Modal dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK):

Dari data tersebut terlihat bahwa jumlah reksa dana hingga akhir Agustus 2020 masih meningkat dibandingkan akhir 2019. Artinya, perusahaan manajemen aset masih menerbitkan instrumen-instrumen baru tahun ini.

Akan tetapi, NAB reksa dana turun dari Rp542 triliun pada 2019 menjadi Rp525 triliun per Agustus 2020, mencerminkan turunnya nilai portofolio atau dana kelolaan para manajer investasi. 

Sementara itu, unit penyertaan beredar masih meningkat, walaupun tipis dari 424,8 miliar menjadi 427,3 miliar. Hal ini menandakan permintaan atas produk reksa dana masih meningkat. Lalu, bagaimana kinerja masing-masing jenis reksa dana sepanjang tahun ini? Berikut ini ulasannya. 

Reksa Dana Saham

Sepanjang tahun ini, kinerja pasar saham cenderung sangat menantang. Hal ini tercermin dari kinerja indeks utamanya, yakni IHSG yang turun 19,78% sepanjang tahun ini atau secara year to date (ytd) per Jumat, 9 Oktober 2020. Jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, penurunan IHSG mencapai 19,07% year on year (yoy).

Di tengah turun tajamnya IHSG ini, sangat wajar apabila kinerja instrumen turunannya, yakni reksa dana saham ikut terkoreksi. Secara umum, kinerja indeks-indeks sektoral di bursa saham juga mengalami penurunan. Oleh karena itu, relatif sulit bagi manajer investasi dalam meracik portofolio saham yang dapat memberikan keuntungan maksimal bagi investor tahun ini.

Berikut ini kinerja IHSG dan indeks-indeks sektoral di Bursa Efek Indonesia hingga Jumat (9 Oktober 2020):

Dari tabel tersebut, terlihat bahwa kinerja terburuk dibukukan oleh saham-saham di sektor properti, real estate, dan konstruksi bangunan yang indeksnya turun 34,98% ytd. Sementara itu, sektor yang masih berkinerja cukup baik yakni industri barang konsumsi, sebab hanya turun 8,69% ytd.

Merahnya kinerja pasar saham menyebabkan sangat sedikit reksa dana saham yang dalam setahun terakhir mencatatkan kinerja positif. Meskipun demikian, ada beberapa instrumen yang mencatatkan tingkat koreksi relatif kecil.

Berikut ini daftar reksa dana saham yang masih untung dan yang tingkat koreksinya di bawah 10% ytd menurut Infovesta per kuartal III/2020 atau per 30 September 2020:

Reksa Dana Pendapatan Tetap

Reksa dana pendapatan tetap menggunakan instrumen dasar obligasi. Reksa dana jenis ini menjadi reksa dana dengan kinerja yang rata-rata masih cukup positif, sebab indeks obligasi masih menghijau tahun ini.

Indeks obligasi yang menghijau tidak saja dari obligasi negara, tetapi juga obligasi korporasi. Oleh karena itu, relatif mudah bagi manajer investasi dalam meracik portofolio investasi reksa dana pendapatan tetap tahun ini dan memberikan imbal hasil yang menguntungkan bagi investor.

Berikut ini kinerja indeks acuan obligasi berdasarkan data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) per Jumat, 9 Oktober 2020:

Dari tabel tersebut terlihat bahwa secara umum, kinerja pasar obligasi tahun ini masih bisa tumbuh di atas 8% ytd. Jika dibandingkan kinerja pasar saham yang memerah, tingkat keuntungan ini tentu sangat tinggi.

Dengan memanfaatkan kinerja pasar obligasi yang cukup tinggi ini, beberapa manajer investasi bahkan mampu meracik portofolio yang dapat mengungguli kinerja indeks tersebut.

Berikut ini daftar reksa dana pendapatan tetap dengan tingkat keuntungan di atas 8% ytd menurut Infovesta per kuartal III/2020 atau per 30 September 2020:

Reksa Dana Campuran

Adanya unsur obligasi dalam reksa dana campuran menjadikan instrumen investasi ini masih dapat tumbuh cukup baik tahun ini, terutama apabila manajer investasinya relatif lebih banyak menggunakan instrumen obligasi ketimbang saham dalam racikan portofolionya.

Meskipun demikian, merahnya kinerja pasar saham menyebabkan tidak banyak produk reksa dana jenis ini yang mampu menghasilkan tingkat keuntungan cukup tinggi, seperti halnya pada reksa dana pendapatan tetap.

Berikut ini daftar reksa dana campuran dengan tingkat keuntungan di atas 1% ytd menurut Infovesta per kuartal III/2020 atau per 30 September 2020:

Reksa Dana Pasar Uang

Kinerja instrumen pasar uang sepanjang tahun ini relatif terbatas, sehingga investor tentu tidak dapat mengharapkan keuntungan yang tinggi dari instrumen turunannya seperti reksa dana. Meskipun demikian, instrumen ini setidaknya masih memberikan tingkat return yang positif.

Sedikit sekali reksa dana pasar uang yang mencatatkan return negatif tahun ini, sebab instrumen ini menjanjikan tingkat keuntungan yang pasti dari penempatan dana di instrumen pasar uang. Oleh karena itu, pilihan investasi jenis ini cocok sekali bagi investor pemula yang ingin menghindari risiko.

Terbatasnya kinerja instrumen ini tidak terlepas dari penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia yang mencapai empat kali tahun ini. Alhasil, bunga deposito perbankan pun ikut turun. Data sementara OJK hingga Juli 2020 menunjukkan tren penurunan tersebut. Berikut datanya:

Dari data tersebut terlihat bahwa sepanjang tahun ini bunga deposito bank cenderung makin turun dari waktu ke waktu. Tren yang sama masih berlanjut hingga saat ini.

Berikut ini daftar reksa dana pasar uang dengan tingkat keuntungan di atas 4,4% ytd menurut Infovesta per kuartal III/2020 atau per 30 September 2020:


Catatan Akhir

Jumlah reksa dana yang beredar di pasar hingga Agustus 2020 sudah mencapai 2.211. Profil produk reksa dana yang ditampilkan dalam tulisan ini hanya segelintir di antaranya yang menghasilkan tingkat keuntungan tertinggi.

Kenyataannya, tidak mudah menemukan produk reksa dana unggulan di pasar, apalagi memprediksi tingkat keuntungannya. Tidak ada jaminan bahwa produk yang selama ini sudah menghasilkan return yang positif akan dapat tetap positif untuk periode selanjutnya.

Oleh karena itu, seorang calon investor reksa dana perlu benar-benar memahami apa jenis reksa dana yang ingin dibelinya. Lebih baik lagi jika investor reksa dana meneliti dengan seksama isi prospektus reksa dana yang hendak dibelinya.

Prospektus merupakan dokumen yang berisi informasi detail tentang reksa dana yang dikelola oleh seorang manajer investasi tertentu. Di dalam prospektus tersebut akan terlihat instrumen mana saja yang digunakan oleh manajer investasi untuk mengelola dana investornya.