Investasi dan Perasaan Menyesal

Date:

[Waktu baca: 3 menit]

Investasi bukan hanya dapat memunculkan perasaan puas, bangga dan senang, namun juga perasaan menyesal, geram dan sedih. Perasaan menyesal bukan sekedar emosi tanpa arti, namun dapat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan investasi berikutnya.

Investasi sering dimaknai sebagai aktivitas yang dapat memunculkan perasaan positif dalam diri manusia. Saat nilai aset bertambah atau mencetak keuntungan, apalagi dengan persentase yang luar biasa tinggi, perasaan gembira, bangga dan puas tersebut membuncah di dalam dada. Siapa tidak senang saat cuan?

Namun, sebaliknya, bagaimana jika hasil investasi ternyata tidak sesuai harapan? Nilai aset justru turun dan menciptakan kerugian. Perasaan yang muncul adalah menyesal, sedih atau kecewa. Dua contoh berikut akan mengilustrasikan bagaimana investasi dapat memunculkan rasa penyesalan.

Contoh pertama, Christina berpandangan bahwa saham VXYZ memiliki prospek yang bagus di 2020. Namun, Christina tidak berani mengambil keputusan apapun terkait saham VXYZ karena takut menginvestasikan uangnya di saham saat pasar saham sedang bergejolak.

Di bulan November dan Desember 2020, saham VXYZ mengalami reli karena berbagai sentimen. Di akhir 2020, saham tersebut terbukti menghasilkan keuntungan besar jika dihitung sejak Christina memikirkan saham tersebut di awal 2020. Christina lalu menyesali keputusan dirinya tidak membeli saham tersebut. Dalam kasus ini, penyesalan terjadi karena tidak mengambil keputusan.

Contoh lainnya, Martha membeli saham ABCD di awal 2020 karena yakin saham tersebut akan meroket sepanjang 2020 sesuai target. Di akhir 2020, bukannya memberi cuan, harga saham tersebut justru turun puluhan persen atau memberikan kerugian yang begitu besar. Martha lalu menyesal karena membeli saham yang "salah". Dalam kasus ini, penyesalan terjadi karena mengambil keputusan.

Dua contoh yang dialami Christina dan Martha di atas memiliki kesamaan yaitu penyesalan sebagai reaksi emosi atas keputusan yang tidak tepat. Penyesalan itu dikenal dengan istilah error of commission dan error of ommission. Dalam ilmu behaviour finance, penyesalan adalah salah satu bias (regret bias) yang dikaji.

Error of commission adalah penyesalan karena mengambil suatu keputusan lalu tindakan tersebut dinilai salah di kemudian hari. Sebaliknya, error of ommission adalah penyesalan karena tidak mengambil suatu keputusan lalu tindakan tersebut dinilai salah di kemudian hari.

Bobot penyesalan itu akan biasanya akan bertambah besar apabila keputusan diambil berdasarkan referensi orang lain, bukan diri sendiri. Misalnya, penyesalan telah menempatkan uang di investasi bodong atas saran dari teman.

Penyesalan ini bukan hanya menyangkut investasi saham, tapi juga investasi di berbagai instrumen lain seperti properti (misal, rumah susah dijual saat butuh uang mendesak), reksa dana (misal, harga NAB per unit turun drastis), emas (misal, harga turun setelah dibeli) dan sebagainya.

Penyesalan yang menyakitkan dapat berdampak terhadap keputusan berikutnya yang diambil. Contoh yang sering terjadi, karena takut salah mengambil keputusan untuk kedua kalinya, seorang investor yang mengalami trauma lalu enggan berinvestasi saham lagi.

Oleh karena itu, dalam berinvestasi, investor biasanya bukan hanya perlu berpikir secara rasional bagaimana caranya mengoptimalkan keuntungan, namun juga bagaimana caranya meminimalkan penyesalan. Menyadari dan memahami risiko adalah segelintir cara untuk mengurangi penyesalan yang terkadang sulit lekang dari ingatan selama bertahun-tahun.