Kenapa Saham ICBP dan INDF Terkapar?

Date:

[Waktu baca: 4 menit]

Dalam dua hari pertama setelah libur Lebaran (Selasa-Rabu, 26-27 Mei 2020), saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk. dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. terjun bebas.

Dua saham tersebut masing-masing mengalami penurunan hampir 15% dalam dua hari perdagangan di saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sedang menghijau pada 27 Mei 2020 (0,32%) dan 26 Mei 2020 (1,78%).

Saham ICBP dan INDF masing-masing hampir menyentuh batas terendah penurunan harga saham (Auto Reject Bawah/ARB) yang telah diperkecil sebesar 7%. 

Berdasarkan data RTI Analytics pada Rabu, 27 Mei 2020, nilai jual bersih oleh investor asing (net foreign sell/NFS) sebesar 4,41 miliar lembar untuk saham ICBP. 

Pada sesi I perdagangan pada Kamis, 28 Mei 2020, saham INDF dibuka menghijau dan saham ICBP dibuka memerah. Sebagai pengingat, ICBP adalah anak usaha dari INDF. Ada apa?

Akuisisi Pinehill

Pada Jumat, 22 Mei 2020, saat pasar saham Indonesia sedang libur, manajemen Indofood CBP Sukses Makmur mengumumkan penandatanganan perjanjian jual beli saham bersyarat dengan dua pihak yaitu Pinehill Corpora dan Steele Lake.

ICBP mengumumkan bahwa perusahaan akan membeli perusahaan investasi Pinehill Company Limited dengan nilai transaksi yang cukup fantastis untuk skala Indonesia, US$2,99 miliar (sekitar Rp44 triliun dengan kurs saat ini).

Sebagai perusahaan investasi, Pinehill memiliki sejumlah perusahaan yang secara khusus bergerak di bidang produksi dan distribusi mie instan di berbagai negara Timur Tengah dan Afrika.

Berbagai perusahaan itu membuat dan menjual mie instan di  Saudi Arabia, Nigeria, Mesir, Turki, Serbia, Ghana, Maroko dan Kenya dimana total seluruh populasinya mencapai 550 juta jiwa.

Secara keseluruhan, perusahaan-perusahaan di bawah Pinehill memiliki 12 pabrik dengan kapasitas produksi 10 miliar bungkus mie instan. Akuisisi itu dilakukan sebagai bagian dari usaha ekspansi atau perluasan usaha ICBP di wilayah yang potensial. 

Dalam pengumumannya, manajemen menyatakan pasar di berbagai negara Timur Tengah dan Afrika itu merupakan pasar yang berkembang pesat. Direksi perseroan juga yakin transaksi itu "akan meningkatkan nilai pemegang saham Perseroan".

Dengan akuisisi itu, Indofood akan menjadi produsen mie instan berskala internasional. Jumlah populasi pasar yang dibidik oleh Indofood akan menjadi lebih besar dibandingkan dengan populasi Indonesia.

Sebagai informasi, Pinehill telah memasarkan mie instan dengan merk Indomie (merk yang dipakai oleh Indofood di Indonesia) di Arab Saudi, Nigeria, Turki, Mesir, Kenya, Maroko dan Serbia berdasarkan perjanjian lisensi dengan INDF, induk usaha ICBP.

Sebenarnya, akuisisi itu telah ditawarkan oleh Pinehill kepada ICBP sejak Februari 2020. Setelah itu, berdasarkan penjelasan di Laporan Tahunan ICBP 2019, manajemen perusahaan melakukan uji kelayakan. 

Dengan asumsi tanpa akuisisi, ICBP memperkirakan penjualan dapat tumbuh mid atau high single digit pada 2020. Manajemen belum mengumumkan perkiraan penjualan setelah adanya akuisisi tersebut.

Pada 2019, penjualan neto mencapai Rp42,3 triliun dan laba tahun berjalan mencapai Rp5 triliun dimana masing-masing tumbuh sekitar 10% dibandingkan dengan pencapaian tahun sebelumnya.

Reaksi Negatif Investor

Namun, rencana akuisisi Pinehill itu tidak ditanggapi positif oleh investor. Dalam dua hari pertama setelah libur lebaran 2020, investor beramai-ramai menjual saham ICBP. Saham INDF juga ikut "terseret".

Mengapa? Kendati bertujuan ekspansi dengan harapan peningkatan pertumbuhan kinerja di masa mendatang, rencana akuisisi itu masih menimbulkan sejumlah pertanyaan. Salah satunya adalah mengenai sumber pendanaan atas transaksi jumbo senilai US$2,99 miliar tersebut.

Dalam pengumuman di keterbukaan informasi BEI, ICBP menyatakan sumber pembiayaan transaksi itu berasal dari dua sumber yaitu kas dan fasilitas pinjaman dari lembaga perbankan. Untuk sumber pembiayaan berupa kas, perusahaan menganggarkan US$300 juta (sekitar Rp4 triliun). Per 31 Desember 2019, posisi kas dan setara kas perusahaan mencapai Rp8,3 triliun.

Sementara itu, sumber pembiayaan berupa fasilitas pinjaman dari lembaga perbankan belum jelas berapa besarannya. Berapa nilainya? Berapa tingkat bunganya? Manajemen menyatakan perseroan masih dalam tahap diskusi dengan para potensial kreditur dan belum ada ketentuan yang bersifat definitif di antara para pihak. 

Tambahan utang dan belum jelasnya mengenai utang tersebut tampaknya menimbulkan reaksi negatif dari para investor mengingat nilai transaksi hingga US$2,99 miliar sedangkan kas yang disediakan perusahaan baru sebesar US$300 juta.

Berdasarkan Laporan Tahunan ICBP 2019, pinjaman berbunga perusahaan sebesar Rp2,3 triliun dan ekuitas Rp26 triliun. Gearing ratio perusahaan mencapai 0,09x pada 2019 atau menurun dalam beberapa tahun terakhir.

Kendati terdapat jaminan keuntungan untuk ICBP setelah akuisisi tersebut, para investor saham tampaknya masih khawatir mengenai tekanan yang besar terhadap kinerja keuangan ICBP karena aksi korporasi itu.

 

 

 

Apabila Anda berencana untuk berinvestasi saham, Big Alpha telah menyusun sebuah e-book kuartalan yang berisi 15 saham pilihan. Klik di sini untuk melakukan pemesanan.