Mengapa Sulit Untuk Berinvestasi Saham?

Date:

Memulai sesuatu adalah hal tersulit bagi banyak orang.

Tidak terkecuali dalam berinvestasi. Kebanyakan orang selalu dihantui oleh pikiran akan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang disebabkan oleh ketidaktahuan akan investasi.

Pada dasarnya, kekhawatiran tidak akan mencegah hal buruk terjadi, tapi hanya akan menghambat kita untuk menikmati potensi keberhasilan yang seharusnya bisa kita raih.

Oleh sebab itu, pertanyaan-pertanyaan seperti; apa itu saham, kenapa harus sekarang, saham itu judi atau bukan, apakah investasi saham itu menipu?, dan berbagai pertanyaan lain yang cenderung menghambat langkah Anda untuk berinvestasi, hanya dapat diatasi dengan: mulai berinvestasi. Segala sesuatu yang besar selalu diawali dengan memulainya.

Langsung memulai serta melakukannya adalah cara pembelajaran terbaik dalam mengalahkan ketidaktahuan. Terlalu banyak dihantui pertanyaan bahkan membuat banyak orang belum tahu bahwa membuka akun sekuritas dapat dilakukan cukup dengan melampirkan foto KTP melalui ponsel. Belum bekerja? Belum punya slip gaji? Tetap akan difasilitasi oleh pihak sekuritas.

Diberikan kemudahan melalui persyaratan yang demikian sederhana, mengapa sulit untuk memulainya?

Artikel ini akan membahas beberapa faktor yang membuat banyak orang cenderung sulit untuk mulai berinvestasi. Kita juga akan melihat gambaran besar yang menyebabkan mengapa hanya 1% dari total penduduk Indonesia yang aktif dalam berinvestasi saham. Relatif tertinggal dengan Malaysia dengan porsi investor sebesar 13% dan Singapura sebesar 30%.

  • Istilah yang Membingungkan

Perlu dipahami, pasar keuangan selalu dipenuhi dengan bahasa keuangan yang sulit dipahami oleh pemula. Istilah dalam pasar keuangan seringkali membuat sesuatu yang sederhana seolah-olah terlihat rumit, sehingga dapat mengurangi keinginan bagi pemula untuk mempelajari pasar keuangan.

Penggunaan istilah yang rumit membuat banyak pemula menganggap bahwa investasi saham hanya layak dilakukan oleh kaum intelektual saja.

Menyadari persoalan itu, sejak akhir 1990 komisi pengawas pasar modal dan sekuritas di Amerika Serikat (SEC) terus mendorong lembaga keuangan setempat untuk menggunakan istilah sederhana yang dapat dipahami oleh publik dalam memasarkan produknya. Tujuannya agar investasi saham dapat menyasar seluruh segmen dalam masyarakat.

Di Indonesia, istilah dalam pasar keuangan belum bisa dikatakan sebagai informasi yang mudah dicerna bagi publik. Ditambah lagi, Indonesia adalah negara dengan kualitas literasi keuangan terburuk ketiga di dunia menurut survei Bank Dunia pada 2014. Padahal, dengan menyediakan sedikit waktu untuk membaca dan memanfaatkan fitur financial dictionary yang disediakan oleh berbagai situs dan berbagai platform investasi, istilah-istilah keuangan tersebut bukanlah persoalan sulit.

  • Saham adalah Judi 

Di Indonesia, banyak anggapan yang berkembang di masyarakat bahwa saham adalah permainan keberuntungan yang hasil investasinya dianalogikan seperti “hoki-hokian”. Tidak jarang apabila saham yang dipandang sebagai “permainan irasional” dianggap sama dengan perbuatan judi. Analogi saham dengan perbuatan judi juga telah membuat banyak orang cenderung menghindari saham karena unsur haram yang terkandung di dalamnya.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berjudi dimaknai dengan “mempertaruhkan sejumlah uang atau harta dalam permainan tebakan berdasarkan kebetulan”. Yang menjadi pertanyaan, apakah investasi saham tergolong sebagai permainan tebakan berdasarkan kebetulan?

Pada artikel sebelumnya, telah dijelaskan bahwa investasi saham bukanlah permainan yang didasarkan pada keberuntungan. Saham adalah instrumen yang dapat diprediksi apabila diperkuat dengan analisa fundamental dan riset sederhana. Keuntungan investasi yang membuat Warren Buffet menjadi satu orang terkaya di dunia tentu bukan diraih berdasarkan keberuntungan spekulatif, melainkan diperoleh dengan penerapan strategi investasi yang disiplin.

Bahkan, sejak tahun 2001 Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) telah mengeluarkan 3 fatwa syariah yang menjadi dasar berinvestasi di pasar modal Indonesia, yaitu fatwa yang mengatur penerapan prinsip syariah di pasar modal, penerapan prinsip syariah dalam perdagangan efek, dan pedoman pelaksanaan investasi reksa dana syariah.

  • Butuh Modal Besar

Banyak juga pandangan yang mengatakan bahwa investasi saham membutuhkan modal besar, hanya layak untuk dimiliki oleh kalangan ekonomi menengah ke atas atau kaum berduit. Asumsi tersebut menyebabkan banyak orang yang memutuskan untuk menahan keinginan berinvestasi saham guna “mengumpulkan modal” terlebih dahulu.

Padahal, di era keterbukaan informasi dan finansial seperti sekarang ini setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan peluang investasi. Didukung oleh kampanye #YukNabungSaham yang terus digencarkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), setiap nasabah dapat mulai berinvestasi dengan minimal dana sebesar Rp 100 ribu. Seberapa sulit kita menyisihkan Rp 100 ribu untuk berinvestasi?

Tetapi, masih banyak keraguan yang mengatakan apakah dengan dana sekecil itu bisa sukses dalam berinvestasi saham? Kami coba berikan solusi sederhana; untuk menghilangkan rasa penasaran yang Anda miliki, Anda cobalah mulai berinvestasi dengan dana sebesar Rp 100 ribu. Tentukanlah jangka waktu investasi Anda, apakah itu mingguan, bulanan, atau tahunan.

Kemudian pilihlah saham berdasarkan tips analisa fundamental pada artikel kami sebelumnya yang harganya sesuai dengan budget investasi Anda. Ketika jangka waktu yang sudah Anda tentukan tadi berakhir, hitung berapa return yang Anda hasilkan dengan dana Rp 100 ribu.

Melalui simulasi sederhana tersebut, secara tidak langsung Anda dapat mempelajari bagaimana cara saham bekerja, bagaimana pasar mempengaruhi tingkat harga, dan bagaimana analisa fundamental dapat mempengaruhi keputusan investasi. Bayangkan apabila tingkat return yang Anda terima, dihasilkan melalui dana investasi yang lebih besar, Rp 1 juta? Rp 10 juta? Rp 100 juta? Langkah investasi besar tersebut dapat dimulai hanya dengan Rp 100 ribu.

  • Takut untuk Rugi

Khawatir akan kerugian adalah salah satu faktor yang membuat banyak orang menghindari saham sebagai media investasi. Kecenderungan orang Indonesia untuk memilih deposito berinvestasi lebih tinggi meskipun hanya akan mendapatkan tingkat return yang tidak seberapa.

Parahnya, mayoritas masyarakat Indonesia bahkan lebih memilih untuk menyimpan uangnya di “bawah bantal” karena ketidakpercayaan terhadap lembaga keuangan. Sebagai informasi, hanya 35% dari total penduduk Indonesia yang memiliki rekening perbankan berdasarkan data Bappenas di tahun 2018.

Padahal, terdapat salah satu prinsip dalam investasi yang perlu dipahami, yaitu “High Risk, High Return”. Prinsip ini menjelaskan bahwa terdapat hubungan positif antara risiko dengan potensi imbal hasil. Semakin tinggi potensi imbal hasil yang akan didapat, maka semakin tinggi pula tingkat risiko yang perlu dihadapi.

Pun sebaliknya, besaran risiko yang rendah hanya akan membuat kita terjebak pada tingkat imbal hasil yang tidak seberapa.

Apabila dilakukan perbandingan, perlu diakui bahwa saham merupakan media investasi yang paling berisiko dibandingkan dengan deposito dan obligasi. Namun, risiko dalam berinvestasi tidak selamanya dapat dikonotasikan sebagai hal buruk apabila ditopang oleh perencanaan keuangan yang terukur.

Strategi investasi jangka panjang yang tidak hanya sekadar menjadi “pengikut pasar” dapat mendukung investor untuk mencapai target investasi yang diharapkan. Risiko memang tidak dapat dihilangkan sampai kapan pun, tapi risiko dapat dikalahkan dengan langkah investasi yang rasional.

Untuk memahami tingkat risiko dalam investasi saham, Anda juga dapat melakukan simulasi Rp 100 ribu yang telah jelaskan sebelumnya. Hanya dengan Rp 100 ribu Anda akan dapat mempelajari seberapa besar tingkat risiko yang harus Anda hadapi, bagaimana berkompromi dengan risiko, sejauh mana risiko bisa dijadikan sebagai teman, dan bagaimana cara mengalahkan risiko dengan strategi yang rasional. Setiap ilmu mengenai risiko investasi akan Anda dapatkan dengan melakukan simulasi Rp 100 ribu.

Ditambah lagi, melalui simulasi tersebut Anda juga bisa memutuskan apakah investasi saham sesuai dengan preferensi investasi Anda.

Sekali lagi, banyak orang cenderung membenci hal yang sebetulnya tidak mereka pahami. Ignorance kills you. Ketidaktahuan hanya akan mempersempit akal kita, dan ketidaktahuan hanya akan menciptakan kedangkalan berpikir. Cara terbaik untuk mengatasi ketidaktahuan adalah dengan langsung memulai dan melakukannya.

Jadi, kapan buka rekening sekuritas?

Bagikan pengalaman simulasi Rp 100 ribu Anda pada kami!