Garuda di Antara Pailit dan Utang yang Melilit, Ini Fakta yang Perlu Kamu Tahu

Dika Aksara

Siapa sih yang enggak bangga dengan Garuda Indonesia? Maskapai pelat merah ini menorehkan banyak prestasi di kancah internasional. Garuda Indonesia menjadi satu-satunya maskapai dunia yang pernah meraih predikat World's Best Cabin Crew selama 5 tahun berturut-turut. 

Garuda Indonesia juga konsisten masih 10 besar World's Best Airline. Meski, beberapa tahun ini nama Garuda memang sempat terlempar. 

Sayangnya, belakangan ini pemberitaan mengenai Garuda Indonesia kembali memanas. Bukan karena prestasi-prestasinya yang membanggakan tetapi akibat nilai utang korporasi yang semakin tak terbendung. Belum lagi, ancaman pailit yang terus-terusan dihadapi perusahaan. 

Lantas apa saja fakta menarik terkait Garuda Indonesia yang perlu kamu tahu? Big Alpha merangkumnya untuk kamu. 

1. Ancaman pailit

Garuda Indonesia terus-menerus menghadapi ancaman pailit sepanjang 2021 ini. 

Setelah lolos dari lubang jarum setelah Majelis Hakim menolak pengajuan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) yang diajukan PT My Indo Airlines pada akhir Oktober 2021, kini ancaman pailit kembali menghadang Garuda. 

Kini giliran PT Mitra Buana Corporindo yang mengajukan permohonan PKPU terhadap Garuda Indonesia. 

2. Pemerintah mulai ancang-ancang jika Garuda dipailitkan

Pemerintah ternyata sudah menyiapkan sejumlah langkah untuk menghadapi skenario terburuk. 

Sejak pengajuan PKPU oleh My Indo Airlines kepada Garuda Indonesia, Kementerian BUMN menyiapkan penunjukan PT Pelita Air Service sebagai perusahaan penerbangan nasional. Perlita Air merupakan maskapai penerbangan di bawah kendali PT Pertamina (persero). 

Namun, Kementerian BUMN menilai opsi ini bukan prioritas. Pemerintah tetap berupaya melakukan negosiasi dengan para lessor dan pihak-pihak lain yang memiliki piutang dengan Garuda Indonesia. 

Opsi lain yang disiapkan pemerintah, menyelamatkan Garuda Indonesia melalui penyertaan modal negara (PMN). Namun, cara ini juga bukan prioritas karena memberi kesan terlalu memanjakan BUMN. Kementerian BUMN pun tidak ingin perusahaan pelat merah 'sedikit-sedikit disuntik pemerintah'.

Jadi, opsi mana nanti yang bakal ditempuh pemerintah untuk menyehatkan Garuda Indonesia? Yuk kita tunggu langkah Erick Thohir. 

3. Utang bengkak, keuangan perusahaan sulit

Hingga awal November 2021, utang Garuda Indonesia tembus US$7 miliar atau setara Rp100,5 triliun. Nilai utang ini bengkak dari angka sebelumnya, Rp70 triliun. Keuangan perusahaan dianggap besar pasak daripada tiang. Tiap bulannya, Garuda Indonesia disebut mengalami kerugian yang cukup besar.

Langkah penyelamatan yang ditempuh pemerintah adalah skema restrukturisasi dengan para kreditur hingga lessor. Pemegang saham Garuda Indonesia juga menetapkan jangka waktu restrukturisasi utang hingga kuartal II 2022. 

Dikutip dari berbagai sumber, utang Garuda Indonesia yang membengkak ini terutama disebabkan biaya sewa pesawat yang terlalu mahal. Biaya sewa pesawat Garuda tercatat mencapai 26% atau yang tertinggi di dunia. 

Menurut pengakuan eks komisaris Garuda Indonesia, Peter Gontha, harga sewa pesawat jenis Boeing-777 di pasaran sebenarnya US$750.000. Namun, direksi Garuda Indonesia sebelumnya membayar sampai US$1,4 juta atau setara Rp19,8 miliar per bulan. 

Penyebab lain yang membuat keuangan Garuda Indonesia krisis adalah adanya indikasi korupsi. Hal ini disampaikan sendiri oleh Menteri BUMN Erick Thohir kepada media nasional. 

"Upaya restrukturisasi terus berjalan. Negosiasi utang-utang Garuda yang mencapai US$7 miliar karena leasing cost termahal yang mencapai 26% dan juga korupsi, lagi dinegosiasikan dengan para lessor," ujar Erick kepada media massa. 

Selain biaya sewa yang kemahalan dan korupsi, ada juga kesalahan pengelolaan bisnis perusahaan. Hal ini juga diungkap oleh Erick Thohir. Perusahaan dinilai tidak bisa memaksimalkan ceruk pasar domestik. 

4. Membaca simbol dukungan Presiden Jokowi untuk Garuda Indonesia

Ada yang menarik dari kunjungan kerja Presiden Jokowi ke sejumlah negara pada akhir Oktober 2021. Jokowi terlihat menggunakan Garuda Indonesia untuk melakukan lawatan perdana ke luar negeri sejak masa pandemi Covid-19. 

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra ikut bersuara soal ini. Menurutnya, dipilihnya Garuda Indonesia oleh Presiden Jokowi untuk kunjungan kerja menunjukkan nihilnya niat pemerintah untuk mempailitkan Garuda. 

"Saya tidak melihat satu tetespun niatan untuk ini dipailitkan. [Nilai utang] Rp70 triliun atau berapa triliun pun itu memang masalah. Lihat dong gesturnya Pak Jokowi kemarin, waktu naik pesawat Garuda mau pergi, lihat dong gesturnya, dalam kondisi gini malah beliau naik Garuda," katanya dikutip dari Youtube Kementerian BUMN.

5. Saham GIAA masih di-suspend

Bursa Efek Indonesia (BEI) masih melakukan suspend atau penghentian sementara perdagangan saham GIAA sejak 18 Juni 2021. Lima bulan berlalu, suspend belum dicabut oleh otoritas. 

Langkah suspend ini merupakan upaya perlindungan terhadap investor, menimbang kondisi kelangsungan usaha perusahaan. 

 

Bisnis