IHSG Bullish, Kenapa Return Reksa Dana Masih Negatif?

Date:

[Waktu baca: 5 menit]

IHSG sedang berada dalam tren bullish dalam beberapa bulan belakangan setelah sebelumnya terjungkal pada kuartal 1/2020 akibat kepanikan pandemi corona. 

IHSG naik 8,7% (satu bulan terakhir), 13,45% (tiga bulan) dan 22,41% (enam bulan). Peningkatan IHSG ini seiring peningkatan harga-harga saham, terutama saham berkapitalisasi pasar besar, yang memiliki bobot besar terhadap indeks.

Namun, hijaunya IHSG ini tidak serta merta membuat return reksa dana, khususnya reksa dana saham atau reksa dana campuran, turut menghijau. Berdasarkan data Infovesta, hanya 18 dari 256 reksa dana saham yang menghasilkan return positif secara year to date atau dari awal 2020 hingga akhir November 2020.

Mengapa? Kendati beberapa bulan terakhir berada dalam tren bullish, IHSG masih minus sekitar 5% secara year to date. Dengan demikian, tidak sedikit pula saham yang masih minus secara year to date (dari awal tahun sampai 10 Desember 2020).

Dari 45 saham yang masuk indeks LQ-45, sebanyak 27 saham masih minus secara year to date. Seperti diketahui, portofolio efek atau "isi" dari reksa dana saham sebagian besar adalah saham. Dengan kata lain, pergerakan harga reksa dana (Nilai Aktiva Bersih per unit) turut dipengaruhi oleh pergerakan saham tersebut.

Sebagai ilustrasi, seorang investor membeli reksa dana dengan harga Rp2.000 per unit pada 2018. Pada Oktober 2020, harga reksa dana tersebut turun menjadi Rp1.100. Penurunan itu terjadi karena berbagai faktor di pasar saham yang mempengaruhi portofolio efek yang terkandung dalam reksa dana tersebut.

Saat IHSG naik, barangkali saham yang berada dalam portofolio reksa dana tersebut turut naik. Namun, kenaikannya belum terlalu tinggi sehingga belum bisa mengembalikan harga reksa dana ke level impas atau tidak rugi.

Ingat, saat harga saham turun 50% maka dibutuhkan kenaikan 100% untuk kembali ke harga semula (misalnya, harga saham Rp100 turun 50% menjadi Rp50 maka dibutuhkan kenaikan 100% supaya dapat kembali ke Rp100).

Lalu apa yang harus dilakukan ketika return (tingkat keuntungan) reksa dana masih negatif? Berikut ini sejumlah tips yang bisa dipertimbangkan:

1. Cek Fund Fact Sheet

Hal pertama yang dapat dilakukan adalah memeriksa laporan bulanan atau dikenal dengan nama fund fact sheet. Setiap produk reksa dana merilis fund fact sheet secara berkala. Sejumlah manajer investasi merilis fund fact sheet di situs perusahaan atau di agen penjual (contohnya, aplikasi).

Dalam fund fact sheet itu, investor dapat melihat portofolio efek hingga alokasi aset apa saja yang terkandung dalam reksa dana tersebut. Dari portofolio tersebut, investor dapat menilai bagaimana manajer investasi memilih efek untuk investasi.

2. Sabar

Setelah melihat fund fact sheet tersebut, investor setidaknya dapat membuat penilaian apakah manajer investasi telah memilih efek yang tepat atau tidak. Sebagai contoh, dalam fund fact sheet tersebut tampak bahwa portofolio efek terdiri dari saham-saham blue chips yang terbukti kinerjanya akan meningkat dalam jangka panjang maka investor dapat bersabar.

Mengapa sabar? Penurunan harga saham yang terjadi pada saat ini bukan tidak mungkin adalah fluktuasi jangka pendek karena berbagai faktor. Seperti diketahui, harga saham tidak mungkin naik terus setiap hari, ia juga akan turun (koreksi) dalam hari-hari yang lain karena berbagai sebab.

Sejarah pasca-krisis pasar saham pada 1998 dan 2008 menunjukkan pasar saham akan memantul dalam jangka panjang setelah mengalami terperosok begitu dalam. Dengan demikian, apabila saham yang dipilih adalah saham yang "tepat" maka investor hanya perlu memperpanjang kesabarannya. Oleh karena itu, tidak ada salahnya investor reksa dana juga memiliki pengetahuan dasar mengenai investasi saham.

3. Cut Loss?

Bagaimana ternyata apabila saham yang dipilih ternyata bukan saham yang "tepat"? Misalnya, dari informasi yang diperoleh dari fund fact sheet, saham yang dipilih adalah saham dari perusahaan yang tidak memiliki fundamental yang baik (rugi, valuasi terlampau mahal, mendapatkan notasi khusus dari otoritas bursa dan sebagainya).

Apabila hal tersebut terjadi maka investor reksa dana dapat mempertimbangkan untuk cut loss (jual rugi) reksa dana tersebut untuk mengurangi kerugian yang lebih besar lagi. Ingat, reksa dana sama seperti produk investasi lain yang memiliki sejumlah risiko. Mengalami kerugian dalam investasi memang menyesakkan dada. Namun, investor legendaris seperti Warren Buffett pun pernah mengalami rugi.