Ini Daftar Saham Farmasi di Bursa Efek Indonesia 2021

Date:

[Waktu baca: 4 menit]

Pilihan sektor yang tersedia di pasar modal cukup beragam. Mulai Januari 2021, Bursa Efek Indonesia mulai memberlakukan klasifikasi sektor industri baru bernama IDX Industrial Classification (IDX-IC). Sistem klasifikasi ini menggantikan model lama yang sudah dipakai sejak 1996, yakni Jakarta Stock Industrial Classification (JASICA). 

Dari 12 sektor yang tercatat dalam IDX-IC, ada sektor kesehatan. Industri kesehatan mencakup perusahaan yang menyediakan produk dan layanan kesehatan seperti produsen peralatan dan perlengkapan kesehatan, penyedia jasa kesehatan, perusahaan farmasi, dan riset bidang kesehatan. 

Dari sejumlah subsektor itu, industri farmasi cukup menarik untuk dibahas. Saham-saham farmasi mencatatkan lonjakan harga yang cukup fantastis pada 2020 hingga awal 2021 ini menyusul bergulirnya program vaksinasi Covid-19 yang dijalankan pemerintah. 

Kami mengulas dinamika pergerakan saham farmasi di tengah pandemi dalam artikel berikut ini: Menyikapi Pergerakan Saham Farmasi. Lantas apa saja daftar saham farmasi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia? Big Alpha merangkumnya untuk kamu. 

1. DVLA - Darya-Varia Laboratoria

Perusahaan farmasi ini berdiri pada 1976. Darya-Varia Laboratoria mulai melantai di Bursa Efek Indonesia pada 1994. Pemegang saham perusahaan ini antara lain Blue Sphere Singapore Pte Ltd dengan porsi kepemilikan 92,13 persen dan publik dengan porsi 7,87 persen.

2. INAF - Indofarma

Indofarma adalah perusahaan farmasi yang dimiliki oleh negara. Pada saat ini, Indofarma adalah perusahaan yang tergabung dalam holding BUMN farmasi yang dipimpin oleh Bio Farma. 

Indofarma melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) pada 2001. Indofarma adalah produsen obat-obatan, baik herbal atau nonherbal, hingga alat kesehatan. 

3. KAEF - Kimia Farma 

Kimia Farma merupakan perusahaan farmasi yang dimiliki oleh negara. KAEF melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) pada tahun 2001. Kimia Farma memiliki sejumlah anak usaha, yang terbagi ke dalam fasilitas produksi farmasi, distribusi dan perdagangan, dan ritel farmasi. 

Anak usaha di sektor produksi misalnya PT Phapros Tbk. Sementara anak usaha di bidang ritel misalnya PT Kimia Farma Apotek dan PT Kimia Farma Diagnostik. 

4. KLBF - Kalbe Farma

Perusahaan ini didirikan oleh dr Boenjamin Setiawan atau Khou Liep Boen pada pada 1966. Dari pabrik farmasi sederhana di sebuah garasi rumah, Kalbe Farma menjelma menjadi salah satu pemain utama di industri farmasi nasional. Perusahaan membagi lini bisnisnya ke dalam empat kelompok, yakni divisi obat resep, divisi produk kesehatan, divisi nutrisi, dan divisi distribusi and logistik. 

5. MERK - Merck

Perusahaan ini berdiri sejak 1970, namun baru menjadi perusahaan publik pada 1981. Produk-produk Merck utamanya adalah obat resep yang banyak dipakai dalam pengobatan. Kepemilikan saham Merck mayoritas dipegang oleh Merck Holding GmbH sebesar 73,99 persen, sementara sisanya dimiliki publik. 

6. PEHA - Phapros 

Phapros adalah anak usaha Kimia Farma (KAEF). Kimia Farma saat ini menguasai 56,7 persen saham dari Phapros. 

Perusahaan yang berdiri sejak 1954 ini memproduksi lebih dari 250 macam obat, sebagian besar adalah hasil pengembangan sendiri (nonlisensi) yang diklasifikasi dalam produk etikal, generic, OTC, dan Agromed. 

7. PYFA - Pyridam Farma

Perusahaan farmasi swasta ini didirikan pada 1976 yang diawali dari sebuah pabrik kecil. Seiring berjalannya waktu, bisnis Pyridam Farma terus berkembang. Pada 2001, perusahaan beroperasi dengan pabrik baru di atas lahan seluas 35.000 meter persegi di Cianjur, Jawa Barat. 

Juga pada 2001 tersebut, Pyridam Farma melantai di bursa dengan kode emiten PYFA. Pada 2020 lalu, PT Pyridam Internasional menjual 47,61 persen saham perseroan kepada Rejuve Global Investment Pte Ltd. 

8. SCPI - Organon Pharma Indonesia

Organonan Pharma Indonesia sebelumnya bernama Merck Sharp & Dohme Pharma. Pergantian nama sendiri baru saja dilakukan pawa awal 2021 ini. Organon sendiri adalah perusahaan hasil pemisahan dari induk usaha Merck Sharp & Dohme. MSD sendiri sejak awal adalah produsen obat resep, vaksin, hingga produk kesehatan lainnya. 

9. SIDO - Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul

Produk-produk Sido Muncul lumayan familiar di telinga masyarakat Indonesia mengingat produk perusahaan ini sering diiklankan di berbagai saluran media.

Produk utama Sido Muncul adalah jamu dengan sistem produksi yang sudah modern. Namun begitu, Sido Muncul juga memproduksi obat atau produk farmasi nonherbal.   Beberapa merek yang populer adalah Tolak Angin dan Kuku Bima Ener-G! 

10. SOHO - Soho Global Health

Perusahaan cikal bakal Soho Global Health didirikan pada 1946, dengan produk unggulan berupa produk injeksi. Soho Global Healt baru melakukan penawaran perdana saham (IPO) pada 2020 dengan kode emiten SOHO. 

Beberapa produk farmasi yang cukup populer di tengah masyarakat antara lain, Curcuma Plus, Imboost, Diapet, Fitkom, dan tentunya Asthma Soho. 

11. TSPC - Tempo Scan Pacific

Tempo Scan adalah perusahaan farmasi yang memproduksi produk konsumen dan kosmetik. Perusahaan melakukan IPO pada 1994. Beberapa produk farmasi yang populer dari Tempo Scan antara lain Bodrex, Oskadon, Hemaviton, Neo Rheumacyl, hingga IPI Vitamin. 

12. SDPC - Millenium Pharmacon International

Millenium Pharmacon International awalnya bernama NV Perusahaan Dagang Soedarpo Corp. Pada saat ini, saham SDPC dikuasai oleh Pharmaniaga International Corporation Sdn Bhd sebesar 73,43 persen,  Danpac Pharma 13,47 persen, PT Indolife Pensiontama 3,36 persen, Ngrumat Bondo Utomo 1,86 persen, dan masyarakat 7,88 persen.  Beberapa produk yang dikenal luas dari SDPC antara lain Antangin JRG, Plasbumin, hingga Cefxon Injeksi.