Uang Bisa Membeli Kebahagiaan

Date:

Ada banyak kutipan di Pinterest atau lirik lagu yang mengatakan bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan. The Beatles pernah menyanyikan kalau uang tak bisa membeli cinta. Koes Plus bilang hati senang walaupun tak punya uang.

Tanpa bermaksud menyudutkan pihak tertentu, tapi bukankah menangis di dalam Lamborghini lebih menyenangkan daripada menangis di atas Beat?

Psikolog Daniel Kahneman dan ekonom Angus Deaton – yang memenangkan Penghargaan Nobel di bidang ekonomi – pernah melakukan sebuah studi pada tahun 2010. Mereka menyatakan bahwa uang dan kebahagiaan memiliki korelasi yang berbanding lurus. Semakin mempunyai banyak uang, maka ada kemungkinkan seseorang untuk semakin bahagia. Namun menurut studi Kahneman dan Deaton tersebut, korelasi antara uang dan kebahagiaan hanya bertahan sampai di pendapatan sebesar USD 75,000 per tahun saja. Sisanya tak relevan. Menurutnya, jika pendapatan seseorang melebih angka tersebut, maka ada sejumlah pembanding yang membuat seseorang tidak menjadi bahagia. 

Pada tahun 2021, studi ini coba diulangi oleh Matthew Killingsworth, seorang dosen di University of Pennsylvania’s Wharton School. Lewat aplikasi yang dapat melacak tingkat kebahagiaan seseorang, Killingsworth menemukan hasil yang serupa dengan penelitian Daniel Kahneman dan Angus Deaton tahun 2010 silam. Uang memang berbanding lurus dengan kebahagiaan. Namun, Killingsworth menemukan hal lain. Temuan terbarunya mengkonfirmasi bahwa masih ada potensi seseorang mendapatkan kebahagiaan meski sudah melewati angka pendapatan tertentu.

Jadi, apa kebahagiaan hanya milik mereka yang berada? Apa bisa hati senang walaupun tak punya uang?

Sebelum menanggapi pertanyaan di atas, sepertinya kita harus mengambil langkah mundur dengan menjawab satu pertanyaan yang lebih mendasar. Apa sebetulnya fungsi uang?

Kalau boleh menggeneralisasi, sepertinya kebanyakan orang menjadikan punya banyak uang sebagai cita-cita agung. The glorius purpose. Menjadikan tumpukan uang sebagai titik terang dari lorong panjang yang sedang ditempuh. Seolah di ujung perjalanan, terdapat kolam renang penuh koin milik Paman Gober di mana kita bisa melemparkan diri ke dalamnya.

Tapi, jika ingin merunut lebih jauh, sesungguhnya uang bukanlah tujuan. Uang hanyalah alat untuk mencapai tujuan. Uang harus digunakan untuk mempunyai makna dan memberi dampak. Sederhananya, kalau sedang lapar maka tujuan kita adalah makan. Dan kita tidak makan uang. Kita bukan rayap. Kita menggunakan uang untuk membeli makanan.

Misalnya, kita sedang terbayang-bayang ayam goreng untuk makan siang hari ini. Maka waktu ayam goreng itu datang, kita akan puas dan bahagia saat melahapnya. Namun uang yang sama bisa tidak mendatangkan kebahagiaan jika kita salah mengambil langkah. Alih-alih di tempat langganan, kita membeli ayam goreng di tempat baru yang rasanya kok agak kurang. Atau kita membeli ayam gorengnya terlalu siang, hingga asam lambung sudah terlanjur naik ke kerongkongan. 

Uang tidak membeli kebahagiaan. Dengan uang, kita hanya membeli pilihan.

Uang yang sedikit artinya punya pilihan yang terbatas. Opsi makanan yang bisa kita beli dengan uang Rp 20,000 tentu lebih sedikit ketimbang dengan uang Rp 50,000. Dengan uang Rp 20,000, pilihannya pecel ayam tenda pinggir jalan atau ayam goreng renyah kendor (kentaki dorong) yang menghangatkan ayamnya dengan bohlam 5 watt. Sedangkan uang Rp 50,000 bisa mengantarkan kita pada ayam goreng renyah kentaki yang tidak didorong.

Namun pilihan yang sedikit belum tentu berarti lebih tidak bahagia dari mereka yang punya banyak pilihan. Makanan Rp 20,000 bisa terasa lebih nikmat. Makanan Rp 50,000 belum tentu lebih enak. Semua punya selera. Semua punya definisi bahagianya masing-masing. Percayalah, sedikit banyaknya uang tak menjamin kebahagiaan. Keputusan atas uang lah yang bisa mendatangkan itu.

Jadi, mungkin benar kata kutipan di Pinterest atau lirik lagu Koes Plus. Hati senang walaupun tak punya uang. Tapi apalagi kalau punya, kan?

Tags: