Palagan Alibaba vs Tencent di Indonesia

Fauzan Ahmad

[Waktu baca: 8 menit]

Berstatus sebagai salah satu orang terkaya di China dengan harta di atas US$50 miliar, tidak butuh waktu lama bagi dunia untuk menyadari hilangnya sosok mantan guru Bahasa Inggris bernama Jack Ma. Sejak absen dari sejumlah agenda publik pada Sabtu (2/1/2021), nama pendiri Grup Alibaba itu banyak jadi perbincangan di jagat maya.

Bukan cuma di China, pertanyaan akan keberadaan Ma juga didengungkan orang-orang di Indonesia. Ini setidaknya tampak dari munculnya subjek ‘Jack Ma’ sebagai trending topic Twitter Indonesia sejak Senin (4/1/2021) pagi hingga tengah malam.

Sampai artikel ini tayang, belum ada konfirmasi terpercaya soal keberadaan Ma. Namun, tidak sedikit yang menduga menepinya Ma dari pusat lampu sorot masih berkaitan dengan konflik antara entitas bisnisnya dengan pemerintahan Presiden China Xi Jinping.

Jack Ma memang sempat berang dengan keputusan otoritas China yang menggagalkan langkah IPO paralel anak usaha Alibaba, Ant Group di bursa Shanghai dan Hong Kong pada awal November 2020. Rencana itu kolaps akibat munculnya regulasi baru untuk menghindari praktik monopoli. Aturan ini bikin perseroan harus menyesuaikan berbagai aspek. Mulai dari modal operasional, sumber dana, ketentuan layanan hingga aspek pengawasan.

Ambyarnya agenda IPO Ant bikin saham Alibaba ikut longsor. Dari posisi HK$299,8 pada Selasa (3/11/2020) atau 2 hari sebelum tanggal IPO, saham Alibaba Group Holdings Ltd di Hang Seng ditutup pada level HK$227,6 di akhir tahun. Sementara di bursa New York, saham Alibaba yang diperdagangkan dengan kode BABA turun dari US$285,57 pada Selasa (3/11/2020) menjadi US$232,73 pada penutupan perdagangan 2020.

Terlepas dari pro-kontra dan berbagai perdebatan soal teori keberadaan Ma, kekhawatiran yang disuarakan orang-orang di Indonesia setidaknya menggambarkan betapa besar pengaruh keberadaan Jack Ma dan gurita bisnisnya di dalam negeri.

Grup Alibaba memang tidak punya entitas anak langsung yang bermarkas di Indonesia. Meski demikian, perusahaan ini merupakan satu dari segelintir grup konglomerasi yang cukup getol melakukan pendanaan ke berbagai perusahaan yang beroperasi di Indonesia.

Perjalanan Alibaba

Manuver investasi itu bermula pada 11 April 2016, ketika Alibaba Holdings Ltd mengumumkan pendanaan pertama mereka terhadap Lazada Group, perusahaan e-commerce multinasional yang berbasis di Singapura, namun punya ceruk pasar terbesar di Indonesia. Tak tanggung-tanggung, Alibaba menyuntik Lazada dengan dana segar US$1 miliar atau setara Rp14,1 triliun.

Seiring berjalannya waktu, setahun kemudian alias pada 29 Juni 2017, Alibaba menambah porsi kepemilikan mereka di Lazada dengan dana yang sama besarnya, US$1 miliar.

CEO Alibaba waktu itu, Daniel Zhang, sempat berkata bahwa pendanaan kedua dilakukan karena dirinya menilai “ada prospek sangat bagus terhadap perebutan pangsa pasar e-commerce di Indonesia.”

Untuk memperkuat tujuannya, Alibaba lantas mengintegrasikan Lazada dengan salah satu perusahaan di Asia Tenggara yang juga baru mereka caplok, yakni Ascend Money. Ascend, yang notabene bermarkas di Thailand, baru diakuisisi 20% sahamnya oleh Alibaba 10 bulan jelang pendanaan kedua Lazada. Akuisisi saham perusahaan yang punya layanan pembayaran bernama True Money ini dilakukan lewat Ant Financial.

Menariknya, upaya Alibaba mempertegas pengaruh di sektor e-commerce Indonesia tidak mentok di Lazada. Bersamaan dengan pendanaan keduanya di perusahaan ini, mereka juga menyuntik modal untuk salah satu rival Lazada, yakni Tokopedia. Alibaba masuk ke perusahaan yang identik dengan identitas warna hijau tersebut sebagai pemilik saham minoritas dengan pendanaan US$1,1 miliar pada 17 Agustus 2017.

Mirip dengan Lazada, seiring berjalannya waktu Tokopedia juga diintegrasikan dengan perusahaan lokal lain yang juga terafiliasi dengan Alibaba. Perusahaan yang dimaksud ialah J&T Alibaba.

J&T Alibaba merupakan perusahaan konsultasi bisnis e-commerce. Kegiatan usahanya adalah merekrut pakar-pakar strategi pemasaran untuk memberikan masukan langsung kepada para pengusaha kecil, alias pelaku UMKM. J&T Alibaba merupakan hasil kerja sama Alibaba dengan perusahaan logistik J&T sejak Mei 2017.

Konon niatan membantu UMKM itu pula yang lantas bikin akuisisi saham Tokopedia oleh Alibaba mendapat dukungan dari pemerintah Indonesia lewat Kemenkominfo.

“Saya berharap kita tidak boleh sensitif hanya gara-gara asing masuk,” demikian kata Rudiantara, Menkominfo Indonesia kala itu saat menanggapi investasi Alibaba di Indonesia pada 17 Agustus 2017.

Tokopedia, lagi-lagi, bukan tujuan akhir. Sebab Alibaba juga mengucurkan modal untuk e-commerce lain, yakni PT Bukalapak.com. Kepemilikan Bukalapak digenggam Alibaba lewat anak perusahaan Ant Financial yang bekerja sama dalam putaran pendanaan dengan Emtek dan GIC Singapura. Total investasi patungan perusahaan-perusahaan ini mencapai kisaran US$1,1 miliar.

Lagi-lagi, investasi Alibaba dilakukan sambil mengintegrasikan bisnis lain. Adalah DANA, perusahaan aplikasi dompet digital yang kemudian masuk sebagai salah satu opsi pembayaran Bukalapak. Beroperasi sejak 2018, DANA berkibar lewat entitas baru bernama PT Espay Debit Indonesia Koe (EDIK) yang merupakan hasil kerja sama Ant Financial dengan salah satu mitra investasi mereka di Bukalapak, Emtek Group.

Bila mengacu laporan keuangan Emtek, jumlah  dana simpanan para pengguna DANA berada di angka Rp487,86 miliar per 30 September 2020. Angka ini naik dibandingkan total simpanan pengguna DANA yang masih di kisaran Rp384 miliar per 30 September 2019.

Kinerja ciamik DANA tampaknya memacu hasrat Alibaba untuk melebarkan sayapnya di Indonesia ke segmen finansial. Ini tampak dari manuver mereka dalam kepemilikan saham PT Bank Neo Commerce Tbk. 

Keberadaan Alibaba di Bank Neo Commerce tampak dari kepemilikan 24,98% saham perusahaan oleh PT Akulaku Silvrr Indonesia. Akulaku sendiri merupakan perusahaan tekfin yang saham mayoritasnya telah dikuasai Alibaba sejak pendanaan pertama pada 11 Januari 2019.

Sebagai catatan, sebelum diakuisisi Alibaba lewat PT Akulaku Silvrr Indonesia, Bank Neo Commerce memiliki nama awal Bank Bhakti Yudha. Kinerja perusahaan ini menyusut pada 2020 dimana pendapatan bunga bersih perusahaan mencapai Rp130,52 miliar atau turun dibandingkan dengan Rp120,52 miliar pada periode yang sama 2019. Sementara itu, laba bersih perusahaan turun 65,9% dari posisi Rp12,62 miliar jadi Rp4,31 miliar

Seiring adanya transisi kepemilikan dan pergantian identitas, pihak Bank Neo Commerce optimistis akan mencapai pemulihan kinerja. Apalagi, mereka juga hendak mengubah fokus mereka dengan mengembangkan diri sebagai bank digital.

Target pangsa pasar yang sebelumnya lebih banyak di kalangan pensiunan pun hendak diperluas ke segmen milenial. Dengan dukungan bisnis-bisnis dan platform yang terafiliasi dengan Alibaba, target ini jelas merupakan sesuatu yang masuk di akal.

Tantangan dari Tencent

Namun perjalanan Alibaba dan Bank Neo Commerce untuk menggenggam bisnis perbankan digital di Indonesia tampaknya tidak akan mudah. Bukan cuma dari perusahaan asli Indonesia, manuver mereka akan mendapat tantangan serius dari Tencent Holdings, grup konglomerasi yang dikendalikan orang terkaya kedua China Ma Huateng.

Mengawali kiprah di Indonesia lewat aplikasi pesan instan WeChat pada 2013 dan platform musik JOOX pada 2015, Tencent saat ini punya keterkaitan secara tidak langsung dengan penantang kuat Bank Neo Commerce di segmen perbankan digital yakni PT Bank Jago Tbk. 

Baru pada akhir tahun kemarin PT Dompet Karya Anak Bangsa mempertegas kepemilikannya di Bank Jago jadi 22,16%. PT Dompet Karya Anak Bangsa merupakan perusahaan yang menaungi GoPay, salah satu unit usaha perusahaan transportasi Gojek. Dan Gojek, sebagaimana banyak diketahui, merupakan salah satu perusahaan yang didanai langsung oleh Tencent.

Tencent pertama kali masuk ke startup transportasi daring tersebut lewat pendanaan senilai US$1,2 miliar bersama Google pada 2017. Setahun kemudian, saat Gojek mewacanakan ekspansi ke Asia Tenggara, Tencent juga menambah suntikan modalnya.

Terakhir, mereka juga melakukan penambahan suntikan dana segar dalam putaran pendanaan bersama Google, Facebook dan PayPal pada pertengahan 2020.

Seperti Bank Neo Commerce, Bank Jago yang sebagian sahamnya dimiliki Gojek kini juga tengah bertransformasi pasca-diambil alih kongsi bisnis eks bankir BTPN Jerry Ng pada awal 2020. Perusahaan masih merugi hingga kuartal III/2020, namun mengklaim bahwa kerugian itu lebih banyak dipicu oleh belanja infrastruktur teknologi yang diproyeksi menopang pemulihan kinerja jangka panjang

Yang tidak kalah menarik lagi, ambisi Tencent beserta Ma Huateng "menantang" Alibaba dan Jack Ma di Indonesia juga dilakukan di sektor e-commerce. Tepatnya lewat suntikan modal ke perusahaan startup PT Shopee International Indonesia.

Kendali Tencent terhadap Shopee tercatat atas SEA, perusahaan induk Shopee asal Singapura yang 34% sahamnya dimiliki Tencent sejak pendanaan US$1 miliar pada Oktober 2017,

Saat ini Tencent barangkali boleh jemawa karena Shopee tengah dalam tren apik. Mengacu data Statista yang rilis pada 28 September 2020 lalu, Shopee merupakan perusahaan e-commerce Indonesia dengan kunjungan terbesar hingga akhir semester I/2020.

Dengan total kunjungan klik mencapai 93,44 juta, Shopee mengalahkan Tokopedia yang mendulang kunjungan 86,1 juta, Bukalapak 35,29 juta, atau Lazada Indonesia 22,02 juta.

Top 10 E-commerce dengan Kunjungan Tertinggi pada Semester I/2020 (dalam juta klik)

Sumber: Statista

Bukan cuma lewat Shopee, Tencent juga masih tercatat sebagai pemegang 20% saham JD.com. JD.com merupakan perusahaan induk dari salah satu e-commerce lain asal Indonesia, JD.id. Selain mengembangkan e-commerce, JD.com juga menyuntik perusahaan pemesanan tiket online Traveloka dengan dana US$500 juta pada 2017.

Bukan mustahil agresivitas investasi Tencent ke Indonesia akan terus berlanjut. Terutama seiring kian ketatnya rencana pemerintah China melakukan pengawasan terhadap perusahaan tekfin, yang akan memicu perusahaan memfokuskan lebih banyak aktivitasnya di luar Negeri Panda. Begitu pula dengan Alibaba dan Jack Ma, yang bahkan tengah terlibat tensi lebih panas dengan Beijing.

Patut dinanti akan berlanjut sejauh apa palagan Alibaba versus Tencent di Indonesia.


 

Bisnis